![]() |
| Sc On Pinterest.com |
"Diam.. Dan bersembunyilah didalam, biar aku yang lihat siapa yang mengetuk pintu rumah kita"
"Tapi kakak, ayah sudah menyuruh kita tidak membukakan pintu untuk siapapun"
"Kalau hanya melihat tidak apa-apa kan? Tunggu sebentar saja, aku akan segera kembali kesini"
Leoneel adalah nama dari kakak laki-laki tersebut. 5 jam yang lalu ayahnya meninggalkan dia dan adik perempuannya untuk kekota, ayahnya pergi kekota untuk berbelanja kebutuhan sehari-harinya. sebelum pergi dia berpesan agar tidak membukakan pintu kepada siapapun, dia juga bilang kalau para tetangga ikut bersamanya. Sebenarnya jarak rumah leon dengan rumah terdekat agar jauh, itu harus melewati sungai yang tidak terlalu lebar. Makanya dia heran siapa yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam begini. Leon mengintip dari lubang yang ada dipintu rumahnya, terlihat seorang laki-laki paruh baya yang terlihat sangat gelisa, laki-laki itu terus mengetuk pintu dan melirik kebelakang badanya sendiri. Seperti ada sesuatu yang dia takutkan.
"Siapa" tanya leon dari balik pintu
"Tolong.. Tolong bukakan pintunya, aku butuh perlindungan, tolonglah jika tidak aku akan mati" jawab laki-laki itu dari sisi luar pintu rumah.
"Ayahku sudah berpesan untuk tidak membukakan pintu kepada siapapun, jika kau kedinginan ambil saja kayu bakar kami dan buatlah perapian"
"Bukan bukan itu aku benar benar harus masuk, tolonglah tolonglah kumohon tolo.."
Tiba-tiba saja suaranya sudah menghilang ditelan keheningan malam. Ada apa ini? Leon bertanya dalam hati.
"Kau baik-baik saja?" tidak ada balasan dari orang yang berada diluar itu lagi.
"Apa kau terluka?" untuk kedua kalinya orang itu tidak menjawab lagi, sebenarnya apa yang terjadi? Lalu leon mengintip lobang pintu itu kembali, kali ini sudah tidak ada siapapun yang ada hanyalah cahaya dari lampu redup depan rumahnya.
Mungkin laki-laki itu sudah pergi, pikir leon.
"Sebaiknya aku kembali kekamar adikku, dia pasti cemas sekali." gumamnya
Leon berjalan menuju kamar ani, ani adalah nama dari satu-satunya adik perempuannya,lebih tepatnya ani demian. leon sangat mencintainya sebagai saudara, juga dia sudah bersumpah untuk melindungi ani sampai kapanpun. Saat dia lahir leon sangat bahagia, sebenarnya saat kecil dulu leon jarang sekali bermain karena jarak rumahnya dan rumah tetangga yang terlampau jauh karena itulah dia sering menghabiskan waktu bersama adiknya. Tiap hari mereka bermain dan hingga sekarang tanpa disadari mereka berdua sudah agak besar.
Ketika mulai dekat dengan kamar adiknya, entah kenapa tercium bau dari darah, seperti bau darah yang masih segar dan baru keluar dari pemiliknya. Apakah ani terluka? Mungkin saja seperti itu.
Leon berjalan dan mengetuk pintu kamar dari ani adiknya.
"Ani ini aku, apakah kau terluka?" tanya leon dengan suara agak kencang. Tapi tidak ada balasan dari dalam kamar ani.
"Ani cepat jawab aku dan bukakan pintu ini" leon memberi perintah tetapi lagi lagi tidak ada balasan dari dalam kamar.
"Ani, apakah kau terlalu takut dan tidak mempercayaiku? Ini benaran aku, kakakmu" leon berteriak untuk kesekiankalinya meyakinkan adiknya.
"Apa-apaan ini apakah dia tidak mempercayaiku" pikir leon.
"Dug" suara dari dalam terdengar. Suaranya seperti tubuh seseorang jatuh kelantai. Lantai rumah keluarga leon terbuat dari kayu dan lantai kayu dikamar ani agak sedikit kopong jadi kalau sesuatu terjatuh dikamarnya akan langsung terdengar sampai kedepan kamarnya.
"Ani aku akan mendobrak pintunya" kemudian leon mendobrak pintu depan kamar ani, dipintu itu terdapat gantungan kamar yang manis untuk dipandang. Kini gantungan tersebut patah dilantai ketika leon mendobrak pintu kamar adiknya.
Leon berhasil mendobrak pintu kamar adiknya yang manis, tapi apa yang dilihat dibalik pintu tersebut. Penampakan mata yang membuat merasa menyesal telah dilahirkan jika hanya untuk melihat ini. Kamar sejuk ani yang awalnya cerah kini berubah suram, kasur putih itu berubah merah, lantai kayu juga seperti mengelurkan darah dan ani tergeletak disamping darah tersebut. Kini leon mulai lemas, pikirannya mulai kabur terbayang-bayang senyum manis adiknya ani yang kini berubah menjadi senyum kesengsaraan.
"Sebenarnya dosa apa yang telah kuperbuat, dosa apa yang telah kulakukan, hingga dewa memberi hukuman seperti ini padaku" teriak leon dengan nada sedih.
"Kenapa kau tak membukakan pintunya, bocah" suara yang terdengar dari balik kegelapan kamar ani
"Kau, suara ini.. Kenapa kau melakukan ini" tanya leon dengan keras, saat itu air mata sudah membanjiri pipinya.
"Ini adalah bisnis" Lelaki itu kembali menjawab pertanyaan dari leon.
"Apa yang kau maksud"
"Ayahmu telah menjual organ kau dan adikmu kepada bosku, jadi ayahmu sama saja mempersilahkan aku membunuh kau dan adikmu"
Mendengar jawaban lelaki misterius itu leon terkulai lemas. Ayahnya sendiri telah menjual dirinya demi uang. Selama ini leon berfikir kalau ayahnya yang melindunginya tetapi sebanrnya apa yang dilakukan ayahnya seperti berternak sapi. Saat sudah wakunya akan disembelih. Sama seperti leon saat ini. Pemandangan terakhir yang ia lihat adalah lelaki itu mengarahkan kapaknya kelehernya lalu darah keluar dari lahernya sendiri

